Ahok Dijadikan MITOS Simbol NKRI dan Bhineka Tunggal Ika


IslamediaKonsultan Tim Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, Eep Saifullah Fatah mengungkapkan bahwa Ahok dimitoskan sebagai tokoh yang merepresentasikan NKRI, Pancasila dan bhinneka tunggal Ika. Sementara yang bukan pendukung Ahok dianggap bukan NKRI dan Pancasila. Pemitosan seperti ini menurut Eep sebagai sikap yang sombong.

Ini merupakan pelecehan karena menganggap orang lain gak ngerti Pancasila dan anti NKRI”, jelas Eep saat berbicara dalam Seminar “Politik dalam Islam” di Universitas Paramadina, seperti dilansir kanigoro.com, sabtu(20/5/2017).

Eep melihat ada keanehan karena sekarang Ahok dijadikan mitos. Biasanya seseorang menjadi mitos ketika belum menjadi pejabat. Gus Dur, misalnya, menjadi mitos sebelum menjadi Presiden, tapi saat Gus Dur jadi Presiden sudah menjadi historis. Demikian juga Megawati” jelas Eep.

Lebih lanjut Eep mencontohkan bagaimana saat Soeharto mengasosiasikan dirinya sebagai Pancasila, ada 50 tokoh yang kemudian membuat sebuah petisi. Dikenal sebagai petisi 50 karena tokoh-tokoh itu melihat sikap seperti itu berbahaya bagi kehidupan berbangsa.

Dengan melihat kasus Pilkada DKI, Eep berkesimpulan bahwa incumbency bukan modal memenangkan pemilu kalau tidak dilaksanakan dengan baik. “Sebagai pemimpin seharusnya pak Basuki memberikan contoh yang baik dengan menjaga adab dan perilakunya. Itulah yang kemudian masyarakat menghukumnya pada Pilkada lalu” papar Eep.

Selain itu kesalahan Ahok adalah cara kampanyenya yang berorientasi pada dirinya sendiri, bukan bagaimana mendengarkan suara masyarakat dan mengorientasikan kampanyenya diarahkan pada kepentingan masyarakat.

Ahok kalah menurut Eep juga karena melanggar keharaman dalam demokrasi yaitu politisasi birokrasi dimana kekuasaan telah membuat aparat menjadi berpihak pada Ahok. Ini dianggap haram oleh demokrasi sehingga direspon negatif oleh pemilih Jakarta. [islamedia]