PKS : Jangan Sampai Kata Mulia "Laa ilaaha illallah" Menjadi Terlarang dan Direndahkan di Bumi Indonesia yang Mayoritas Muslim


Islamedia Anggota Fraksi PKS Almuzammil Yusuf mengingatkan kepada Kapolri Jendral Tito Karnavian bahwa kata mulia "Laa ilaaha illallah" telah menemani para pejuang dalam mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Pernyataan berani dari Almuzammil ini disampaikan dalam interupsi dalam sela-sela sidang Paripurna DPR hari selasa, 24 Januari 2017, terkait dengan penahanan Nurul Fahmi yang membawa bendera merah mutih bertuliskan "Laa ilaaha Illallah Muhammad Arrosulullah".

Almuzammil juga menegaskan bahwa kata mulai  "Laa ilaaha illallah" menjadi kata terlarang dan direndahkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

"Jangan  sampai proses hukum yang sedang berjalan menggiring kesimpulan publik bahwa kata mulia "Laa ilaha Ilalloh" yang telah menemani para pejuang mengusir penajajah,  menjadi kata yang terlarang dan direndahkan di bumi Indonesia yang mayoritas muslim dan negara muslim terbesar di dunia" tegas Almuzammil.

Dalam kesempatan tersebut Almuzammil juga meminta kepada Kapolri untuk menegakkan prinsip negara hukum yakni pertama, supremasi hukum bukan kekuasaan. Kedua, persamaan warga negara di hadapan hukum bukan perbedaan.  Ketiga, penegakan hukum dengan menghormati aturan hukum. 

"Bukan dengan melabrak aturan hukum. Nurul Fahmi telah ditangkap aparat penegak hukum di tengah malam seperti seorang teroris dan bandar narkoba. Padahal dalam kasus Nurul Fahmi harus dibuktikan unsur kesengajaan dan niat jahat," jelas Almuzzammil.

Seperti diberitakan sebelumnya  Nurul Fahmi merupakan peserta Aksi Bela Ulama  yang membawa bendera merah putih dengan tulisan arab "Laa ilaaha illallah muhammad arrosulullah" saat berdemo di Mabes Polri, Senin (16/1/2017) lalu.[islamedia]