Saya Keturunan Cina, Saya Muslim, Saya Anti PKI dan Saya Cinta NKRI


Islamedia - Gak percaya saya Cina??? Ini bukti saya anak seorang laki-laki cina. Dia bukan Cina PKI, dia bukan Cina Penjual bangsa, Tapi dia Cina yang melalui banyak pertempuran demi Negara dan Bangsa ini. 

Lahir dari keluarga pejuang bermarga Ku. Ahkong (Kakek) saya (Ku Fen Sui) adalah seorang Perantau dari Negeri Tiongkok yang telah mengorbankan nyawa dan terpenggal kepalanya di tahun 1937 oleh penjajah. 

Karena Ahkong saya diketahui Penjajah pada saat itu adalah salah seorang Etnis Tionghwa yang enggan tunduk pada para penjajah, dan bahkan merupakan penyokong dana Perjuangan para Pejuang di Kalimantan Barat, kota Pontianak khususnya. Akibatnya, oleh penjajah beliau diculik pada waktu dinihari di rumahnya (Seputaran Supermarket Harum Manis dan Kelenteng Tua di jalan KH. Agus Salim "Kota Pontianak a.k.a Khuntien"). 

Jadilah Amma (Nenek) saya seorang Janda yang tengah Hamil Tua anak pertama dari pernikahan mereka karena suaminya telah gugur, ya mayat ahkong saya diantar kerumah dalam keadaan terpenggal pulang tinggal badan tanpa kepala tanpa nyawa. 
Saat kelahiran anaknya 24 Mei 1937 sang ibu tak mampu membesarkan anak itu akibat stress berat atas kematian suaminya. Hingga anak tunggal dari "marga KU" itu besar dari menumpang hidup dari saudara-saudara ibu-bapaknya secara berpindah-pindah, dan oleh sebab itu pula dia mampu tumbuh dan bergaul bersama Pribumi, tahun 1960 beliau pun bergabung bersama Angkatan Perang Republik Indonesia. 

Banyak peperangan beliau lewati, Dwikora, Trikora, Penumpasan DITII, Konfrontasi Malaysia hingga Penumpasan PKI semua beliau ikuti... Sampai tersiar kabar beliau tertangkap Tentara Gurka saat Konfrontasi Malaysia pecah. 

Banyak cerita seru yang beliau ceritakan dengan semangat membara tatkala melalui pertempuran demi pertempuran. 

Sampai saat ini beliau Alhamdulillah masih Sehat Wal Afiat. Dan saya bangga menjadi anaknya. 

Dialah (Ku Te Fa) Bapak Saya. Tidak pernah dia lupa bahwa dia seorang Cina, bahkan 5 bahasa Cina dia kuasai (Hokien, Konghu, Tiociu, Khek dan Mandarin) bahkan Tulis Cina pun beliau kuasai. 

Ku Te Fa Bersama Putranya Bernama Ku Kim Sin


Tapi Kami anaknya tidak pernah ia didik sebagai Cina yang lupa akan Negeri tercinta, Ia selalu didik Kami sebagai Cina dari anak Bangsa Indonesia yang wajib memiliki Jiwa Patriotisme. 

Baginya Agama diatas SEGALANYA, Kemudian Bangsa dan Negara tempat kita bernaung adalah Atap yang mesti kita jaga agar jangan sampai runtuh, sementara budaya leluhur cukuplah jadi pengingat siapa kita SEBENARNYA. 

Bapak ku adalah salah satu dari sangat-sangat sedikit Cina yang Bisa jadi Tentara Nasional Indonesia saat itu. Dimana beliau adalah prajurit yang ikut menumpas Para Komunis Biadab di Negeri ini. 

Lalu, akankah sekarang kita diam??? Kamu dan saya serta semua Cina yang Lahir di Bumi Pertiwi, ikrarkanlah sumpah kalian bahwa Negara Kita satu Indonesia, Bahasa kita satu Indonesia dan Bangsa kita satu Indonesia. 

Mari kita berpegang tangan yang erat, bersama kita bangun Negara Indonesia tercinta dari para Penista Agama, Pemecah Belah Bangsa dan Para Komunis yang hendak Masuk kedalam tanah tumpah darah kita. Jangan terkotak-kotak lagi, saatnya kita bangun dan bersatu Demi Negara Tercinta. Allahuakbar.... Allahuakbar... Allahuakbar....





Ditulis oleh Ku Kim Sin

[islamedia.id]