Selain Ahok, Saya Tidak Bermasalah dengan Etnis Tionghoa Lainnya


Islamedia -  Sahabat kecil saya pertama kali waktu di Solo adalah seorang perempuan Tionghoa, namanya Yani.

Tetangga kanan kiri kami di Sangkrah, Solo juga dari etnis Tionghoa. Saat kerusuhan etnis di Solo akhir 70-an, mereka berbondong2 mengungsi di rumah kami lewat pintu belakang. Mobil mereka dibakar, rumah mereka dirusak. Dirumah kamilah mereka berlindung saat itu.

Sahabat SD & SMP saya seorang Katolik, namanya Septian. Tetangga saya di Pondok Gede beberapa ada yg Tionghoa. Saat kerusuhan Mei 1998, mereka ramai2 menitipkan barang2 berharganya di rumah kami.


So, saya tidak pernah punya masalah rasial. Saya menghormati kawan-kawan dengan ras apapun, agama apapun, asalkan mereka juga menghormati saya sebagai kawan & saudara sebangsa setanah air.
--
Tapi jika ada yg menghina agama kami, melecehkan keyakinan kami; mengatakan Al Quran kami jadi alat membodohi orang; siapapun dia, apapun agamanya; saya akan lawan sekuat tenaga saya.

Ini bukan soal etnis, ini bukan soal Non-Muslim. Ini soal penistaan agama oleh seseorang yang naik jadi Gubernur karena Gubernur aslinya jadi Presiden. Selain bangsat satu itu, saya tidak bermasalah dengan kawan2 non-Muslim & etnis Tionghoa lainnya. Mereka tetaplah kawan saya.

Allahu Akbar.

Afwan Riyadi - Vokalis Izzatul Islam