Inilah Jawaban Ustadz Salim A Fillah Atas Tuduhan RASIS Terhadap Etnis Tionghoa Yogyakarta


Islamedia - Tuduhan beberapa netizen kepada Ustadz Salim A Fillah yang dianggap RASIS akhirnya mendapat jawaban. Melalui Page Facebook pribadinya, Ustadz Salim A Fillah secara khusus menuliskan penjelasanya dengan judul "ORASI".

"Sayapun mendapat kesempatan berharga untuk bermuhasabah. Rasiskah saya?" tulis Ustadz Salim di Page Facebook pribadinya, sabtu(29/10/2016).

Ustadz Salim menuliskan : "Maka yang menuduh saya rasis, tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Bahkan penghargaan agung dari kami untuk mereka yang selalu mengingatkan makna ayat ampuh ini".

Berikut ini penjelasan lengkap Ustadz Salim dengan judul "ORASI".

ORASI
@salimafillah

Telah bertahun-tahun lalu terakhir kali saya berbicara dengan nada tinggi di atas panggung terbuka dalam sebuah aksi. Sudah lama sekali.

Datang dalam acara Apel Kesiaagaan Ummat Islam Jumat kemarin di depan Gedung Agung Yogyakarta pun saya mencoba agar tak terlalu dikenali dan dicari. Tapi rupanya panitia memang kesulitan karena banyak sesepuh yang berhalangan maupun betul-betul enggan tampil ke hadapan. Berulangkali dibujuk, akhirnya saya menyetujui.

Tapi memang demikianlah sifat ucapan manusia; sangat terikat suasana dan konteks; kapan, di mana, serta dalam kondisi apa. Yang menyimak di lokasi pasti menangkap makna yang tak dapat persis sama dengan yang melihat rekamannya. Beberapa rekan yang dengan maksud amat baik -(di antaranya karena merasa mendapat wawasan baru terkait sejarah salah satu sisi kecil keistimewaan Yogyakarta)- membagikan rekaman orasi saya itu -(yang sayangnya juga kurang lengkap)-, hingga bias tak terhindarkan dan terjadi pro kontra.

Allah Yang Maha Mengatur tak pernah lalai dan tak pernah aniaya. Semua pasti ada hikmahnya.

Sayapun mendapat kesempatan berharga untuk bermuhasabah. Rasiskah saya?

Dalam niat sebagaimana Al Quran menyebut berbagai pengkhianatan Bani Israil sebagai pengingat dan pelajaran bagi kaum beriman dan relevan dengan perilaku negara zionis di masa sekarang; saya memang menyebut sebuah kejadian di masa lalu tentang suatu etnis tertentu.

Niat maupun rangkaian narasinya tentu saya arahkan bukan pada etnisnya, tapi kezhaliman satu oknum dan pihak-pihak di belakangnya yang maha berdaya. Tapi niat memang sukar dinilai dan keterbatasan berbahasa dapat membuat makna tak tersampaikan seperti maksud aslinya. Maka yang menuduh saya rasis, tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Bahkan penghargaan agung dari kami untuk mereka yang selalu mengingatkan makna ayat ampuh ini:

"..Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, menjadikanmu berlaku tidak adil kepada mereka. Adillah kalian, karena sungguh ia lebih dekat kepada taqwa." (QS Al Maaidah: 8).

Ah, sayapun harus terus bertanya pada hati, "Rasiskah saya?"

Tapi saya selalu merasa bangga menjadi pengagum kenegarawanan Xiao He, Zhuge Liang, dan Di Ren Jie, penggemar puisi Su Dong Po juga pengutip Lao Tze dan Kong Tze, penelusur catatan Sima Xian, serta penikmat roman Luo Guan Zhong hingga menjadi pengumpul berjilid-jilid karya Feng Meng Long. Saya selalu takjub dan berusaha belajar dari Peradaban Tiongkok. Bahkan ketika menulis tentang Gubernur Ahmad Heryawan pun saya menggunakan cerita tentang Yan Ying dari Negara Qi, satu dari 7 Perdana Menteri paling legendaris dalam Sejarah Cina. Juga ketika menulis tentang Pak Anies Baswedan, saya menggunakan kisah Zhu Yuan Zhang, Pendiri Dinasti Ming.

Rupanya kalau saya deretkan, jumlah tokoh-tokoh yang saya favoritkan dari Tiongkok nyaris melampaui tokoh-tokoh besar muslimin di luar Arab.

Uraian di atas, kalaupun tak meyakinkan dari yang mengira saya fasis, setidaknya semoga menentramkan batin saya. Bukankah jika kita mengenal diri, segala ucapan orang baik pujian atau sebaliknya takkan berpengaruh? Dan memang, penjelasan semacam ini musykil karena yang cinta tak memerlukan dan yang benci takkan percaya.

Tapi Shalih(in+at) boleh save the date, insyaallah tgl 12 Desember pagi di Masjid Jogokariyan kami, saya dan Shifunda saya yang jelas Tionghoa, Ustadz Felix Y. Siauw insyaallah akan mempersembahkan terbitnya buku duet tentang dakwah dan ukhuwah yang seluruh royaltinya akan kita bawa menghangatkan keluarga kita di Palestina dan Suriah. Ustadz Derry Sulaiman juga insyaallah hadir berbagi. Ahlan.😊